Saya merasa bersyukur dan bangga, karena tahun ini Nondoi kembali digelar di Kabupaten Penajam Paser Utara. Tradisi suku Paser yang telah diwariskan secara turun-temurun ini bukan sekadar ritual, tetapi wujud nyata penghormatan kita terhadap leluhur dan alam sekitar.
Nondoi membawa kita semua pada kesadaran kolektif bahwa kebersamaan, gotong-royong, dan rasa memiliki terhadap tanah dan budaya adalah aset yang tak ternilai. Di saat banyak perubahan dan modernisasi menghampiri—termasuk dengan masuknya proyek besar Ibu Kota Nusantara—kita harus tetap menjaga akar budaya kita, agar identitas Paser dan jati diri kita sebagai masyarakat PPU tidak luntur.
Partisipasi masyarakat, generasi muda, tua-muda, serta tokoh adat dan agama menunjukkan bahwa Nondoi bukan milik satu golongan saja, melainkan milik semua warga, tanpa memandang status, asal usul, ataupun profesi. Itu adalah roh kebersamaan yang membuat kita kuat.
Sebagai bagian dari DPRD Kabupaten Penajam Paser Utara, saya mendukung sepenuhnya upaya pelestarian tradisi ini bukan hanya dalam bentuk pengakuan budaya, tetapi juga sebagai bagian dari strategi pembangunan sosial dan budaya daerah. Saya percaya, bila budaya kita dihargai dan dilestarikan, maka masyarakat akan tumbuh dengan rasa bangga, tanggung jawab sosial, dan kesadaran untuk menjaga warisan leluhur.
Mari kita jaga bersama Nondoi bukan hanya sebagai agenda tahunan, tetapi sebagai cara hidup. Semoga festival tahun ini membawa berkah, mempererat tali persaudaraan, dan memperkuat semangat gotong-royong di Penajam Paser Utara.